<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d23639906\x26blogName\x3dTHROUGHTS+BECOME+THINGS\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://blogjokosusanto.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://blogjokosusanto.blogspot.com/\x26vt\x3d-2196957938478043455', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Menggagas format ekonomi yang berkemandirian

Tema ini pernah diangkat tanggal 7 Februari 2004 dalam satu semi­nar di Wisma Sargede Yogyakarta yang dilaksanakan dalam rangka launching suatu lembaga kajian S2E (Study Sosial Ekonomi). Lembaga ini dimotori oleh para rnahasiswa Fak. Ekonomi Univer­sitas Cokroaminoto Yogyakarta. Tulisan berikut adalah poin- poin terpenting yang terungkap dalam forum tersebut.

Sebagai awal pembicaraan saya, pertama saya mengucapkan selamat atas lahirnya satu Study Sosial Ekonomi (S2E). Harapan saya wadah ini bukan lagi menjadi menara gading yang ujungnya tidak jelas. Saya berharap orang-orang yang terlibat pada lembaga baru ini mampu memberikan kontribusi pemikiran-pemikirannya untuk perbaikan bersama negeri ini. Apa yang diharapkan dan menjadi tujuan dan lembaga ini saya support sekali Saya menangkap satu format dimana Andalah yang akan memegang sejarah masa depan negeri ini dan masing-masing kita juga mengambil peran sesuai amal kita dengan perbuatan kita, sesuai dengan pekerjan kita masing-masing, karena semua itu adalah investasi bagi Indonesia masa kini dan masa datang.

Saya menderivasikan kembali tema yang diberikan kepada saya, karena tema Menggagas Format Ekonomi Indonesia yang Berkemandirian bagi saya masih sangat membingungkan. Saya merasa bingung karena terlalu luas cakupannya. Artinya, yang saya maksud membingungkan di sini adalah format kemandirian yang seperti apa? Sesuai aturan kita adalah Negara yang berdaulat, namun dari sisi ekonomi kedaulatan kita sudah dirampas orang lain. Kita semua dari sisi ekonomi sudah tak memiliki darah yang segar. Hidup kita sudah tergadai dengan dolar, sudah tergadai dengan barang barang impor dan pergaulan ekonomi kita juga sudah larut pada dunia yang asing dari kepribadian kita. Karena itulah format kemandirian menjadi sangat tidak jelas.

Satu fakta kongkrit yang kita alami bersama bahwa setiap ganti penguasa kita tetap mengandalkan utang luar negeri. Kita belum pernah membangun dengan semata-mata mengandalkan kemampuan cash yang cukup. Kita ingin cepat maju tetapi dengan cara hutang pada orang lain. Sumber pengembaliannya masih akan dicari dan yang membantu mencarikan penghasilari kita orang lain juga yang tak kalah liciknya dengan menggaruk komisi yang teramat besar. Sehingga negeri ini terkenal sebagai negeri kampiun penghutang. Sampai-sampai setiap bayi yang lahir di negeri ini sesungguhnya sudah menanggung hutang jutaan rupiah.

Negeri ini sampai saat ini masih menjadi anak emas Inter­national Monetary Fund (IMF) dan negeri- negeri donatur lain. Kenapa IMF senang memelihara Indonesia? Ketika IMF mau dicerai, mereka tidak mau. Kenapa mereka tidak mau lepas dari Indonesia? Karena keuntungannya yang besar bila Indonesia tetap bisa menjadi bulan- bulanan, bahkan tahun- menahunsebagai sapi perahnya. Kita dihisap terus oleh mereka dan kita semakin tak berdaya. Itu semua merupakan grand design terhadap negeri ini, supaya negeri ini tidak pernah secara ekonomi menjadi Negara yang berdaulat. Kita akan dikuyo- kuyo oleh mereka, kita akan dibuat tak berdaya berhadapan dengan mereka, kita akan dibuat selalu bergantung dengan mereka, kita akan selalu menjadi sapi perahan orang asing itu. Kalau dahulu kita dijajah secara fisik dengan hadirnya bangsa-bangsa kolonial seperti Belanda, Jepang, Portugal dll, kini kita dijajah secara ekonomi, budaya dan politik lewat arus informasi dan tekanan psikologis yang membuat kita seperti kehilangan darah kemandiriannya.

Dalam format yang lebih kecil kemandirian kita tidak terbangun lewat budaya entrepreneurship yang sehat. Pendidikan entrepreneurship dibangku sekolah tidak ada. Kalau pun ada, pendidikan kewirausahaan ini sangat terbatas. Kalau Anda di Uni­versitas Cokroaminoto misalnya di Fakultas Ekonomi ada pelajaran aneka macam terkait dengan ekonomi, tetapi keluar dari fakultas ekonomi Anda tidak akan menjadi pengusaha, tetapi Anda menjadi pekerja, pencari kerja dan yang terbanyak tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Berapa alumni fakultas ekonomi di negeri ini yang keluar dari kampusnya hanya menjadi kuli? Kenapa bisa demikian adanya? Karena kita di kampus tidak pernah diajari bagaimana menjadi penjual. Mental kita terbangun sebagai mental pembeli dan bukan mental seorang penjual. Kurikulum dan sistem pendidikan nasional kita hanya memungkinkan sekali tumbuh suburnya pekerja- pekerja yang ingin kaya secara instan.

Saya memiliki seorang teman yang pekerjaannya sebagai pemborong jalan raya. Dia pernah bertutur kepada saya, bahwa kalau memiliki proyek senilai 1 miyar untuk membangun jalan atau membangun gedung maka yang betul-betul ditanamkan di jalan atau yang betul-betul menjadi gedung itu hanya 30 % - 40 % saja. Kemanakah yang 60 % - 70 % dana pembangunan proyek itu? Yang pasti banyak yang menguap tak ada pertanggungjawabannya secara benar. Secara formal mereka legal dan bisa tidak terjerat oleh hukum Negara, namun demikian secara moral mereka tidak mungkin bohong terhadap hati nuraninya yang berbuat korup seperti itu.
Sekali lagi, perilaku anak-anak bangsa yang ingin kaya secara in­stant dan sukses secara instant adalah wujud perilaku- perilaku nega­tif yang bisa membahayakan masa depan negeri ini. Masih diperlukan kerja keras untuk membangun moralitas bangsa ini di masa depan.

Contoh lain adalah kalau Anda lulus dari Universitas yang bonafide sekalipun. Dengan mengantongi ijazah sarjana, Anda yang orang tuanya seorang petani kecil di desa, menanam padi,menanan pala wija sepenti singkong misalnya, dan Anda sekolah sampai sarjana karena perjuangan orang tua Anda yang secara ekonomi sangat pas- pasan, setelah lulus dari kampus, apakah Anda mau meneruskan bertani seperti orang tua Anda? Bagi Anda yang lulus dari fakultas pertanian pun, banyak yang orang tuanya petani. Begitu lulus menjadi sarjana pertanian mereka tidak mau bertani seperti orang tuanya. Mereka lebih memilih menjadi wartawan, menjadi pekerja bank dan sebagainya. Kenapa Anda yang sarjana pertanian tidak membesarkan dunia pertanian? Padahal kita tahu bahwa ada banyak masalah di dunia pertanian kita sehingga petani-petani kita sampai sekarang tak berdaya menghadapi persoalannya sendiri Orangtua Anda yang hanya tamat SMP saja mampu mensarjanakan Anda lewat pertaniannya, kenapa Anda yang sarjana justru tak mampu berbuat banyak terhadap dunia yang sudah selama ini membesarkan Anda?

Kalau orang tua Anda di rumah berhasil mensarjanakan Anda dengan berdagang barang-barang kelontong di pasar kecil di kota Anda, mereka berhasil menghantarkan kesarjanaan Anda dengan berdagang sayur-sayuran, sembako, bumbu masak dan sebagainya kenapa Anda setelah menjadi sarjana tidak meneruskan pekerjaan orangtua Anda? Anda malu atau merasa tak memiliki bakat seperti orang tua? Orang tua Anda yang sekolahnya tidak setinggi Anda saja mampu menghantarkan Anda menjadi sarjana lewat pekenjannya seperti itu, kenapa Anda yang orang tuanya sebagai pedagang kelontong tidak berpikir dan berupaya menjadikan dagangan orang tua anda itu menjadi supermarket atau hypermarket? Anda yang orang tuanya menjadi pedagang sayur mayur, kenapa tidak Anda jadikan profesi penjual sayuran itu diperbesar menjadi pemasok sayur mayur di seluruh gerai- gerai supermarket dan pasar swalayan? Anda yang sarjana karena orang tua Anda berprofesi pedagang beras, kenapa Anda tidak berupaya membesarkan dagangan orang tua Anda menjadi perdagangan beras antar pulau atau antar negera? Dan kalau Anda menjadi sarjana karena orang tua Anda yang benpendidikan hanya SD sebagai pedagang warung kopi di pinggir gang pojok kampung, kenapa tidak Anda jadikan besar dan terkenal sehingga bisa diwaralabakan seperti halnya Starbach?

Orang tua Anda tidak mau membesarkan bisnisnya kemungkinan karena wawasan keilmuannya tidak sampai atau tidak mampu melakukannya, tetapi Anda yang sudah sarjana, semestinya mau dan mampu berpikir besar, untuk membesarkan bisnis yang sudah ada. Karena sesungguhnya juga banyak bisnis besar dimulai dari kaki lima, emperan toko dan pinggir gang kampung. Coba Anda lihat yang namanya Supermarket Hero. Oleh pendirinya, Mr Kurnia, dimulai dari warung kecil di emperan toko, layaknya kaki lima yang Anda kenal saat ini. Perjuangannya yang luar biasa, kegigihannya yang tak kenal menyerah dan impian- impian besarnya, kini Hero menjadi tokoh dan pelopor perdagangan retail terbesar dan termodern di Indonesia.

Apa yang membedakan semua itu? Yang membedakan adalah Anda seorang sarjana yang pendidikannya relatif lebih baik dari orang tua Anda. Semestinya Anda juga memiliki kemampuan yang lebih baik dari orangtua Anda. Yang membedakan berikutnya adalah hanyalah soal besar dan kecilnya barang dagangan. Dagangan besar dan dagangan kecil produknya sama saja. Yang berbeda adalah pikiran Anda yang seharusnya berpikir besar. Kita ini kadang hanya berpikir besar saja tidak mampu. Hanya untuk bermimpi besar saja kita tak berani. Hanya untuk bercita-cita menjadi besar saja kita tak berdaya. Hanya untuk maju menjadi orang besar saja kita sudah takut dan kalah sebelum perang.

Apa jadinya kalau orang-orang muda seperti Anda berpikir besar saja tidak mampu Anda lakukan? Apa jadinya negeri ini kelak, kalau orang-orang berpendidikan tinggi seperti Anda cara berpikir dan cara bertindaknya adalah cara-cara berpikir dan bertindaknya orang kecil dan lemah? Apa jadinya kalau orang seperti Anda berpikir dan bertindak mandiri saja sudah tak mampu Anda lakukan? Salah satu berpikir dan bertindak besar adalah berpikir dan bertindaklah sebagai pengusaha.

Pendidikan kita tidak mengajarkan entrepreneurship. Pendidikan kita, silabus dan kurikulumnya hanya berisi teori- teori yang sangat hebat tentang bisnis. Bagaimanapun hebatnya teori bisnis ya tetap saja teori. Tanpa dipraktekkan teori itu hanya menjadi onggokan kertas yang tak berarti. Banyak buku-buku yang dikarang oleh para professor, doktor, dosen ekonomi dan para kampiun teori, tetapi tetap saja pada dataran ril mereka bukan pelaku ekonomi produktif. Mereka hanya pelaku ekonomi konsumtif, yang tak berdaya menghadapi persaingan dan gempuran peperangan bisnis.

Nyali kita kecil, keberanian kita kecil dan kita tumbuh sebagai penakut-penakut yang luar biasa. Sampai-sampai hanya untuk bermimpi dan berpikir besar saja kita tidak memiliki keberanian untuk itu.

Untuk bicara ekonomi Indonesia yang mandiri kita tidak perlu terlalu idealis dengan menyalahkan presidennya yang tidak pinter, menteri yang tidak becus, DPR yang hanya tidur atau siapapun yang akan Anda jadikan kambing hitam kesalahan. Mari kita bicara dari diri kita sendiri, dari masing- masing pribadi kita, dan dari apa yang kita lakukan setiap harinya.
Kalau Anda tamat dari perguruan tinggi terima ijazah, menfoto copy dan melegalisirnya sebanyak- banyaknya untuk melamar pekerjaan maka itu artinya apa yang kita lakukan tidak akan membuat kita mandiri. Dengan menawar- nawarkan ijazah kepada perusahaan atau instansi pemerintah itu artinya kita siap menjadi karyawan dan belum siap menjdi pengusaha. Dengan menulis lamaran dan mengirimkannya ke banyak perusahaan setelah kelulusan sekolah Anda itu sama artinya Anda tidak menjadikan upaya menjadi pengusaha sebagai upaya yang Anda prioritaskan. Dengan menenteng amplop coklat atau stop map lamaran kerja sama artinya Anda memasuki dunia yang akan memasung Anda dengan rutinitas sebagai karyawan.
Apakah ijazah itu yang Anda cari dari sekolah Anda? Apakah selembar ijazah itu yang akan Anda jadikan sebagai gantungan kehidupan Anda? Apakah ijazah itu yang akan membuat Anda bekerja dan memperoleh uang? Apakah dengan gelar akademik yang berderet itu yang membuat karier Anda menjulang tinggi? Saya kira tidak. Ijazah hanyalah selembar tanda kalau Anda sudah menyelesaikan studinya pada tingkatan tertentu. Hanya itu fungsinya. Anda memperoleh uang dan pekerjaan adalah karena kemampuan dan kredibelitas Anda yang memang Iayak untuk itu.Coba mari kita mengaca diri untuk mengukur seberapa bisa kemampuan kita untuk mandiri. Bermula dengan demikianlah kita akan bisa bangkit sebagai bangsa yang bermartabat. Hanya dengan menjadi bangsa yang berdaulatlah kita pada waktunya kita menjadi bangsa yang besan. Saya yakin kita pasti bisa. “Bersama kita bisa !!“ Begitu kata Susilo Bambang Yudhoyono dan Muhammad Yusuf Kalla saat kampanye menjelang terpilihnya mereka menduduki kursi RI- 1 dan RI- 2 lewat pemilu yang baru pertama kali secara langsung tahun 2004.

To be The Moslem Entrepreneur

Label:



Free Web Site Counter
Photobucket


Masukan alamat email anda untuk berlangganan artikel yang ada di blog ini:

Di dukung oleh FeedBurner

pulsagram, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online


Photobucket

Copy dan paste kode di atas kedalam blog kamu

Powered by Blogger
make money online blogger templates

" HUBUNGI SAYA "